Perjuangan dibalik Pulau Pari yang Indah Mempesona
Hembusan angin membawa kesegaran, menepis teriknya cahaya
sang surya. Kapal melesat diatas jernihnya air bergradasi biru seirama dengan
deruh ombak yang bersahabat. Sesekali ikan-ikan melompat indah ke atas
permukaan laut, mencuri perhatian seperti menyampaikan salam perkenalan kepada
anak kota yang sudah penat dikelilingi dengan gedung yang menjulang tinggi.
Menempuh perjalanan selama hampir dua jam dari dermaga Kaliadem menuju dermaga Pulau Pari, tidak sedikit pun rasa bosan hinggap mengganggu. Seakan semua tersihir oleh panorama keindahan laut yang dilukiskan oleh Sang Pencipta. Nahkoda tangguh dengan segala pengalamannya berhasil mendaratkan kapal dengan mulus di dermaga Pulau Pari.
Hamparan pasir putih terasa lembut saat kami memijakan kaki di Pulau Pari, pulau yang tersembunyi dari hingar bingar kota Jakarta. Kini saatnya memburu pengalaman baru dimulai. Senyum hangat penduduk sekitar Pulau Pari menyambut kedatangan kami, para Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia beserta para Dosen yang berjiwa muda membimbing kami dalam Kegiatan Praktik Kuliah Lapangan Mata Kuliah Jurnalistik.
Praktik Kuliah Lapangan, Mata Kuliah Jurnalistik diselenggarakan pada tanggal 07-08 November 2015 bertempat di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Bukan sekedar kegiatan have fun, namun jika dikaji lebih dalam lagi, para Dosen kami ternyata sungguh kreatif. Mengajak bagaimana Mahasiswa dapat berperan dalam meningkatkan wisata pariwisata di Indonesia.
Indonesia telah dikenal dunia sebagai salah satu negara dengan banyaknya wisata alam, salah satunya seperti wisata bahari, dimana Indonesia terkenal dengan keindahan pantai dan laut serta berbagai macam biota laut langka juga bernaung didalamnya dan Pulau Pari termasuk satu dari banyaknya wisata bahari kebanggaan Indonesia.
Kunjungan Praktik Kuliah Lapangan, Mata Kuliah Jurnalistik kami adalah mengunjungi beberapa objek bahari yang berada di Pulau Pari, yaitu Pantai Pasir Perawan, Pantai Kresek dan Pantai Lipi. Suasana pantai penuh dengan keceriaan para wisatawan. Bermain di tepi pantai, bermain voly bersama, snorkeling, hingga bersantai di saung sambil menikmati air kelapa muda.
Pak Arman, salah satu wisatawan bersama rekan-rekannya dalam rangka Gathering di Hari Karyawan (Employee Day) Auto Astra 2000 mengatakan, “Setelah snorkeling ternyata Pulau Pari ini bagus ya,” saat sedang duduk santai dibawah naungan saung nan nyaman, salah satu fasilitas umum yang khusus dipersiapkan untuk wisatawan melepas lelah sambil menikmati keindahan Pulau Pari.
Tak terdapat wajah yang terselimuti perasaan kelabu, semua ceria, termasuk salah satu dari pengurus Pantai Pasir Perawan, Bapak Salbi. Senyum kebanggaan terpancar dari raut wajahnya, “Dulu disini jalan masih setapak, dipenuhi ilalang seperti hutan, aku dan teman-teman yang lain swadaya, modal dengkul membangun Pantai Pasir Perawan ini untuk memajukan perekenomian masyarakat di Pulau Pari,” ujar Bapak Salbi dengan senyum penuh kebanggaan.
Sungguh hati merasa teriris ketika mendengar keluh kesah dari Bapak Salbi. Pasalnya dahulu masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan rumput laut. Saat limbah menyerang sumber pendapatan mereka, sudah tidak ada lagi rumput laut yang bisa terjual. Kejadian ini memaksa Bapak Salbi memutar otak bagaimana dirinya dan warga Pulau Pari tidak menjadi penggangguran.
Ibu Suaebah juga memperkaya warna di Pantai Pasir Perawan dengan berjualan telur gulung, makanan legendaris masyarakat Indonesia pasca tidak bisa menjadi nelayan rumput laut lagi. “Jualan lumayan rame, hari biasa bisa dapet Rp.300.000 sampe Rp.400.000 hari Minggu lebih rame lagi Rp. 700.000,” ujar Ibu Suaebah dengan senyum penuh syukur. Pak Taceng salah satu penduduk lokal juga ikut berwirausaha dengan menjajakan es krim. “Sekarang pengunjung banyak, pendapatan meningkat,”
Pak Nurhayat yang menjabat sebagai Ketua RW 04 Kelurahan Pulau Pari selaku tokoh masyarakat pada saat Conference Pers Praktik Kuliah Lapangan, mata kuliah Jurnalistik juga ikut andil dalam mendukung warganya dalam mengelola Pulau Pari, beliau mengatakan, “Semua penduduk lokal yang ada di Pulau Pari sangat diizinkan untuk membuka usaha. Asal mengutamakan pelayanan dan kebersihan, supaya banyak wisatawan datang berkunjung,”
Mengutamakan keindahan, pelayanan, kenyamanan, kebersihan
dan keamanan pengunjung memang salah satu strategi penduduk lokal untuk menarik
wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Pari, terbukti dengan adanya peningkatan
pengunjung yang datang berkunjung ke Pulau Pari. Pada hari weekdays jumlah pengunjung bisa menembus hingga 1.500 pengunjung.
Selain itu saat weekend, pengunjung
membludak mencapai 3.000 jiwa per hari.
Mas Bonte, salah satu dari generasi muda yang berdomisili di Pulau Pari juga ikut mengajak teman-temannya untuk bahu-membahu mempercantik Pantai Pasir Perawan. Mas Bonte mengatakan, “Kita disini ga berharap lebih dari pemerintah, semua swadaya masyarakat. Dana pembangunan dari tiket masuk Pantai Pasir Perawan yang Rp. 3.500 itu. Anak-anak muda kumpul, dibagi tim kerja, jaga keamanan, kesopanan dan kebersihan Pulau Pari, baru bagi hasil,”
Warga di Pulau Pari sudah sangat antusias untuk menyambut wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Terbukti dengan kesigapan Ibu Tarwiah dalam mempersiapkan homestay untuk wisatawan. “Setiap Minggu ada peningkatan penumpang. Wisatawan bisa nginep di homestay. Tarifnya yaa lumayan, terjangkau. Harga mulai dari rp. 500.000 sampe Rp. 700.000 satu homestay bisa ditempatin maksimal 10 orang,” jelasnya.
Tidak hanya Pantai Pasir Perawan saja, namun Pulau Pari masih mempunyai banyak objek wisata bahari yang tidak kalah menariknya. Terdapat Pantai Lipi dan Pantai Kresek. Lagi, surga tersembunyi kembali dapat ditemukan di Pulau Pari. Ketenangan, keteduhan, desir ombak kecil dengan indah menari-nari, disertai dengan irama daun-daun pohon kelapa yang menambah kemerduan suasana Pantai Lipi dan Pantai Kresek.
Perairan di Indonesia diberkati dengan beraneka biota laut yang hampir langka. Salah satunya terdapat di Pantai Kresek yang juga ikut melestarikan dan menjaga keindahan bahari Indonesia. Pantai Kresek menaungi salah satu biota laut panjang umur, penyu. Juga tidak ketinggalan bintang laut dengan beragam warna ikut menambah nuansa kekayaan bahari di Pulau Pari.
Jika Pantai Kresek terkenal tempat yang cocok untuk menyantap barbeque di malam hari, Pantai Lipi juga tidak mau kalah dalam menyumbangkan kekayaan bahari untuk Indonesia. Mas Holis, salah satu dari tour guide di Pulau Pari yang berprofesi khusus sebagai pemandu diving mengatakan, “Wisata under water di Pantai Lipi bagus banget, buat yang mau diving liat keindahan ikan-ikan dan terumbu karang, karena ga kebek, masih terawat dengan baik,”
Mas Bonte, salah satu dari generasi muda yang berdomisili di Pulau Pari juga ikut mengajak teman-temannya untuk bahu-membahu mempercantik Pantai Pasir Perawan. Mas Bonte mengatakan, “Kita disini ga berharap lebih dari pemerintah, semua swadaya masyarakat. Dana pembangunan dari tiket masuk Pantai Pasir Perawan yang Rp. 3.500 itu. Anak-anak muda kumpul, dibagi tim kerja, jaga keamanan, kesopanan dan kebersihan Pulau Pari, baru bagi hasil,”
Warga di Pulau Pari sudah sangat antusias untuk menyambut wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Terbukti dengan kesigapan Ibu Tarwiah dalam mempersiapkan homestay untuk wisatawan. “Setiap Minggu ada peningkatan penumpang. Wisatawan bisa nginep di homestay. Tarifnya yaa lumayan, terjangkau. Harga mulai dari rp. 500.000 sampe Rp. 700.000 satu homestay bisa ditempatin maksimal 10 orang,” jelasnya.
Tidak hanya Pantai Pasir Perawan saja, namun Pulau Pari masih mempunyai banyak objek wisata bahari yang tidak kalah menariknya. Terdapat Pantai Lipi dan Pantai Kresek. Lagi, surga tersembunyi kembali dapat ditemukan di Pulau Pari. Ketenangan, keteduhan, desir ombak kecil dengan indah menari-nari, disertai dengan irama daun-daun pohon kelapa yang menambah kemerduan suasana Pantai Lipi dan Pantai Kresek.
Perairan di Indonesia diberkati dengan beraneka biota laut yang hampir langka. Salah satunya terdapat di Pantai Kresek yang juga ikut melestarikan dan menjaga keindahan bahari Indonesia. Pantai Kresek menaungi salah satu biota laut panjang umur, penyu. Juga tidak ketinggalan bintang laut dengan beragam warna ikut menambah nuansa kekayaan bahari di Pulau Pari.
Jika Pantai Kresek terkenal tempat yang cocok untuk menyantap barbeque di malam hari, Pantai Lipi juga tidak mau kalah dalam menyumbangkan kekayaan bahari untuk Indonesia. Mas Holis, salah satu dari tour guide di Pulau Pari yang berprofesi khusus sebagai pemandu diving mengatakan, “Wisata under water di Pantai Lipi bagus banget, buat yang mau diving liat keindahan ikan-ikan dan terumbu karang, karena ga kebek, masih terawat dengan baik,”
Semoga perjuangan modal dengkul para penduduk lokal di Pulau Pari dalam menggembangkan
wisata bahari di Indonesia membuat kita semakin mencintai negeri sendiri. Bukan
soal terkenalnya suatu tempat. Keindahan alam dinikmati untuk membuat hati
merasakan kebahagiaan sejati, bukan sekedar selfie hanya untuk gengsi.
Ditulis
oleh: Linna Friska Marbun
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia


