Metamorfosa Pulau Pari
Ketentraman
adalah kesan pertama yang Pulau Pari suguhkan ketika menyambut kedatangan
rombongan kami, para Dosen berserta Mahasiswa Universitas Bunda Mulia, dalam
rangka Praktik Kuliah Lapangan, Mata Kuliah Jurnalistik, yang dilaksanakan
mulai dari tanggal 07 November 2015 sampai dengan tanggal 08 November 2015.
Pasir putih
halus terhampar luas menyeluruh, seperti permadani yang memberikan kenyamanan
disetiap langkah kaki. Desiran ombak menghempaskan irama, bernyanyi merdu. Matahari
bersinar dengan cahayanya yang terik, membuka tabir sehingga tidak ada lagi
pesona keindahan Pulau Pari yang tersembunyi, semua terlihat nyata.
Sepanjang
perjalanan kami menuju Homestay, yaitu
tempat penginapan sementara selama kami berada di Pulau Pari, penduduk lokal
dengan ramahnya menyapa rombongan kami dengan senyum yang tulus. Menyiratkan
bahwa betapa bahagianya mereka melihat kami mengunjungi kediaman mereka yang
penuh dengan keindahan.
Setelah
berjalan tidak lumayan jauh dari Dermaga, akhirnya kami sampai di Homestay. Penduduk lokal tidak
henti-hentinya memanjakan kami. Mereka telah mempersiapkan Welcome Drink untuk kami semua. Air kelapa berserta kelapa muda
yang segar, potongan jelly, dan
manisnya krimer berpadu satu, berhasil membuang rasa letih kami.
Tidak membuang
waktu, kami kembali ke Homestay. Mempersiapkan
diri kami untuk mengexplore keindahan
Pulau Pari, karena dalam rundown acara,
kami punya free time selama kurang
lebih 3 jam. Setelah semua siap, kami mengambil sepeda. Fasilitas yang
disediakan secara gratis untuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pulau
Pari.
Kami mengayuh
sepeda dengan santai, angin sepai-sepoi menyapa kami dengan sejuk.
Pemberhentian pertama kami adalah Pantai Pasir Perawan. Sangat terkejutnya kami
saat kami melihat air di pantai tersebut begitu jernih, kami dapat meneropong
keindahan alam bawah laut hanya dengan menggunakan mata telanjang.
Banyak kegiatan
yang kami lakukan selama di Pantai Pasir Perawan. Mengabadikan moment kami
dengan berfoto, saling berbagi tawa, bermain voly pantai, dan ada satu dari
banyaknya kegiatan kami yang sangat berkesan, yaitu menanam bibit bakau. Harapan
kami, selain untuk penghijauan, bibit bakau ini bisa tumbuh menjadi pohon bakau
yang kuat dan besar agar bisa menahan abrasi pantai.
Setelah puas
menikmati keindahan Pantai Pasir Perawan, kami kembali ke Homestay, membersihkan tubuh kami yang lengket karena seharian
terkena air laut dan butiran pasir pantai. Setelah semua bersih, kami
melanjutkan kegiatan kami selanjutnya. Kami kembali mengayuh sepeda kami menuju
Pantai Kresek untuk makan malam dan barbeque.
Keesokan
harinya, yaitu pada tanggal 08 November 2015 adalah acara inti Praktik Kuliah
Lapangan, Mata Kuliah Jurnalistik. Kami semua akan melakukan Pers Conference dengan salah satu tokoh
masyarakat dan warga sekitar Pulau Pari. Pada kegiatan tersebut, saya sangat
tidak menyangka bahwa Pulau Pari telah bermetamorfosa.
Seperti yang
telah saya jabarkan sebelumnya tentang keindahan Pulau Pari yang begitu indah,
siapa yang menyangka bahwa ternyata dulu Pulau Pari hanyalah sebuah Pulau
dengan banyaknya pohon bakau dan mata pencaharian penduduk hanyalah sebagai
nelayan dan budi daya rumput laut.
Karena adanya
kerusakan akibat faktor alam serta kelalaian manusia yang membuang limbah
sehingga mencemarkan perairan di Pulau Pari, akhirnya banyak rumput laut yang
mati, menyebabkan kerugian akibat gagal panen. Nelayan juga susah mencari ikan
dan hewan laut kebanggaan pulau ini yaitu pari juga sudah susah untuk ditemukan
lagi.
“Disini penanaman rumput laut juga udah
susah, Neng. Ada sebagian masih jadi nelayan. Pendapatan hidup berkurang, Jadi
masyarakat swadaya aja nih bangun tempat wisata, ada Pantai Pasir Perawan dan
Pantai Kresek. Pemerintah ga ada kasih dana, cuma support aja” – Nurhayat, Ketua RW 04 Kelurahan Pulau Pari.
Begitu
terkesima saya melihat semua keindahan alam selama di Pulau Pari ternyata hasil
dari masyarakat setempat. Mereka saling swadaya bahu-membahu menyulap Pulau
Pari menjadi tempat wisata, hanya support
dari Pemerintah. Sungguh saat mendengar pernyataan dari tokoh masyarakat,
yaitu Bapak Nurhayat, saya merasa tercengang.
Betapa
teririsnya hati saya sejak mendengar pengakuan dari Bapak Nurhayat selaku Ketua
RW 04 Kelurahan Pulau Pari “Semakin
tahun, pengunjung semakin berkurang, Neng. Dulu itu bisa 1000 sampe 3000
pengunjung per hari. Kalo sekarang yaa sekitar 1500 pengunjung, itu juga di
hari weekend. Kalo hari biasa sepi”
Seakan masih
merasa penasaran tentang Pulau Pari yang bermetamorfosa, saya menghampiri salah
satu penjual es krim. Teriknya suasana pantai sangat cocok dinikmati sambil
makan es krim. Selain makan es krim tentunya saya juga bisa mengulik berbagai
macam informasi dari penjual yang juga masyarakat setempat.
Beliau bernama
Bapak Taceng, seorang penjual es krim keliling.
Beliau sudah menggeluti profesinya dan telah berdomisili di Pulau Pari
selama lebih dari 4 tahun. “3 tahun yang
lalu, Pulau Pari banyak pengunjungnya, Neng. Tapi mulai dari awal Januari 2015
sampe sekarang, pengunjung Pulau Pari berkurang. Bulan ini aja (November) cuma minggu ini aja yang rame.
Minggu-minggu kemarennya mah sepi, Neng” – Bapak Taceng.
Mendengar apa
yang telah dikatakan beberapa narasumber pada saat Pers Conference membuat saya berinisiatif untuk mempromosikan Pulau
Pari. Karena menurut saya Pulau Pari benar-benar indah dan terbukti karena saya
telah terjun langsung ke lokasi, bukan hanya sekedar surfing dari internet maupun dengar apa kata orang.
Pesan saya
untuk para pembaca, telusurilah keindahan alam yang ada di Indonesia. Karena
kita tidak tau perjuangan apa saja yang telah dan akan dilakukan masyarakat
disekitar tempat wisata untuk menarik minat pengunjung. Bukan soal terkenalnya
suatu tempat, namun keindahan alam yang dipersembahkan tempat tersebut.
Di Indonesia
masih banyak sekali keindahan dunia yang tersembunyi. Kita sebagai generasi
muda masih punya banyak waktu dan tenaga. Mari kita jelajahi dan
menyebarluaskan panorama keindahan negara Indonesia, sehingga Indonesia tetap
bergengsi menjadi negara dengan sejuta pesona alam.
Ditulis oleh : Linna Friska Marbun
Mahasiswi Universitas Bunda Mulia, Program Studi Ilmu Komunukasi
Untuk tugas Mata Kuliah Jurnalistik, membuat Feature Wisata
Mahasiswi Universitas Bunda Mulia, Program Studi Ilmu Komunukasi
Untuk tugas Mata Kuliah Jurnalistik, membuat Feature Wisata






