Jumat, 13 November 2015

Tugas Pengantar Jurnalistik; Menulis Feature Wisata


Metamorfosa Pulau Pari


Ketentraman adalah kesan pertama yang Pulau Pari suguhkan ketika menyambut kedatangan rombongan kami, para Dosen berserta Mahasiswa Universitas Bunda Mulia, dalam rangka Praktik Kuliah Lapangan, Mata Kuliah Jurnalistik, yang dilaksanakan mulai dari tanggal 07 November 2015 sampai dengan tanggal 08 November 2015.

Pasir putih halus terhampar luas menyeluruh, seperti permadani yang memberikan kenyamanan disetiap langkah kaki. Desiran ombak menghempaskan irama, bernyanyi merdu. Matahari bersinar dengan cahayanya yang terik, membuka tabir sehingga tidak ada lagi pesona keindahan Pulau Pari yang tersembunyi, semua terlihat nyata.

Sepanjang perjalanan kami menuju Homestay, yaitu tempat penginapan sementara selama kami berada di Pulau Pari, penduduk lokal dengan ramahnya menyapa rombongan kami dengan senyum yang tulus. Menyiratkan bahwa betapa bahagianya mereka melihat kami mengunjungi kediaman mereka yang penuh dengan keindahan.

Setelah berjalan tidak lumayan jauh dari Dermaga, akhirnya kami sampai di Homestay. Penduduk lokal tidak henti-hentinya memanjakan kami. Mereka telah mempersiapkan Welcome Drink untuk kami semua. Air kelapa berserta kelapa muda yang segar, potongan jelly, dan manisnya krimer berpadu satu, berhasil membuang rasa letih kami.

Tidak membuang waktu, kami kembali ke Homestay. Mempersiapkan diri kami untuk mengexplore keindahan Pulau Pari, karena dalam rundown acara, kami punya free time selama kurang lebih 3 jam. Setelah semua siap, kami mengambil sepeda. Fasilitas yang disediakan secara gratis untuk wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pulau Pari.

Kami mengayuh sepeda dengan santai, angin sepai-sepoi menyapa kami dengan sejuk. Pemberhentian pertama kami adalah Pantai Pasir Perawan. Sangat terkejutnya kami saat kami melihat air di pantai tersebut begitu jernih, kami dapat meneropong keindahan alam bawah laut hanya dengan menggunakan mata telanjang.


Banyak kegiatan yang kami lakukan selama di Pantai Pasir Perawan. Mengabadikan moment kami dengan berfoto, saling berbagi tawa, bermain voly pantai, dan ada satu dari banyaknya kegiatan kami yang sangat berkesan, yaitu menanam bibit bakau. Harapan kami, selain untuk penghijauan, bibit bakau ini bisa tumbuh menjadi pohon bakau yang kuat dan besar agar bisa menahan abrasi pantai.



Setelah puas menikmati keindahan Pantai Pasir Perawan, kami kembali ke Homestay, membersihkan tubuh kami yang lengket karena seharian terkena air laut dan butiran pasir pantai. Setelah semua bersih, kami melanjutkan kegiatan kami selanjutnya. Kami kembali mengayuh sepeda kami menuju Pantai Kresek untuk makan malam dan barbeque.

Keesokan harinya, yaitu pada tanggal 08 November 2015 adalah acara inti Praktik Kuliah Lapangan, Mata Kuliah Jurnalistik. Kami semua akan melakukan Pers Conference dengan salah satu tokoh masyarakat dan warga sekitar Pulau Pari. Pada kegiatan tersebut, saya sangat tidak menyangka bahwa Pulau Pari telah bermetamorfosa.

Seperti yang telah saya jabarkan sebelumnya tentang keindahan Pulau Pari yang begitu indah, siapa yang menyangka bahwa ternyata dulu Pulau Pari hanyalah sebuah Pulau dengan banyaknya pohon bakau dan mata pencaharian penduduk hanyalah sebagai nelayan dan budi daya rumput laut.

Karena adanya kerusakan akibat faktor alam serta kelalaian manusia yang membuang limbah sehingga mencemarkan perairan di Pulau Pari, akhirnya banyak rumput laut yang mati, menyebabkan kerugian akibat gagal panen. Nelayan juga susah mencari ikan dan hewan laut kebanggaan pulau ini yaitu pari juga sudah susah untuk ditemukan lagi.


Disini penanaman rumput laut juga udah susah, Neng. Ada sebagian masih jadi nelayan. Pendapatan hidup berkurang, Jadi masyarakat swadaya aja nih bangun tempat wisata, ada Pantai Pasir Perawan dan Pantai Kresek. Pemerintah ga ada kasih dana, cuma support aja” – Nurhayat, Ketua RW 04 Kelurahan Pulau Pari.

Begitu terkesima saya melihat semua keindahan alam selama di Pulau Pari ternyata hasil dari masyarakat setempat. Mereka saling swadaya bahu-membahu menyulap Pulau Pari menjadi tempat wisata, hanya support dari Pemerintah. Sungguh saat mendengar pernyataan dari tokoh masyarakat, yaitu Bapak Nurhayat, saya merasa tercengang.

Betapa teririsnya hati saya sejak mendengar pengakuan dari Bapak Nurhayat selaku Ketua RW 04 Kelurahan Pulau Pari “Semakin tahun, pengunjung semakin berkurang, Neng. Dulu itu bisa 1000 sampe 3000 pengunjung per hari. Kalo sekarang yaa sekitar 1500 pengunjung, itu juga di hari weekend. Kalo hari biasa sepi”

Seakan masih merasa penasaran tentang Pulau Pari yang bermetamorfosa, saya menghampiri salah satu penjual es krim. Teriknya suasana pantai sangat cocok dinikmati sambil makan es krim. Selain makan es krim tentunya saya juga bisa mengulik berbagai macam informasi dari penjual yang juga masyarakat setempat.


Beliau bernama Bapak Taceng, seorang penjual es krim keliling.  Beliau sudah menggeluti profesinya dan telah berdomisili di Pulau Pari selama lebih dari 4 tahun. “3 tahun yang lalu, Pulau Pari banyak pengunjungnya, Neng. Tapi mulai dari awal Januari 2015 sampe sekarang, pengunjung Pulau Pari berkurang. Bulan ini aja (November) cuma minggu ini aja yang rame. Minggu-minggu kemarennya mah sepi, Neng” – Bapak Taceng.

Mendengar apa yang telah dikatakan beberapa narasumber pada saat Pers Conference membuat saya berinisiatif untuk mempromosikan Pulau Pari. Karena menurut saya Pulau Pari benar-benar indah dan terbukti karena saya telah terjun langsung ke lokasi, bukan hanya sekedar surfing dari internet maupun dengar apa kata orang.


Pesan saya untuk para pembaca, telusurilah keindahan alam yang ada di Indonesia. Karena kita tidak tau perjuangan apa saja yang telah dan akan dilakukan masyarakat disekitar tempat wisata untuk menarik minat pengunjung. Bukan soal terkenalnya suatu tempat, namun keindahan alam yang dipersembahkan tempat tersebut.

Di Indonesia masih banyak sekali keindahan dunia yang tersembunyi. Kita sebagai generasi muda masih punya banyak waktu dan tenaga. Mari kita jelajahi dan menyebarluaskan panorama keindahan negara Indonesia, sehingga Indonesia tetap bergengsi menjadi negara dengan sejuta pesona alam.

Ditulis oleh     : Linna Friska Marbun
Mahasiswi Universitas Bunda Mulia, Program Studi Ilmu Komunukasi
Untuk tugas Mata Kuliah Jurnalistik, membuat Feature Wisata

Selasa, 03 November 2015

Tugas Pengantar Jurnalistik; Menulis Feature

Seseorang Menghanyutkanku disuatu Universitas


Seperti menemukan seseorang yang dapat meyakinkan bahwa kata pepatah “Diam-Diam Menghanyutkan” itu benar adanya. Terlihat diam dalam kesehariannya, tidak banyak bicara seperti Mahasiswa Ilmu Komunikasi pada umumnya. Namun, siapa sangka? Ternyata dirinya adalah seorang penulis novel. Sela Marsela Gusman, diantara 22 orang teman sekelas saya dibangku perkuliahan, Sela punya banyak cerita unik menarik didalam dirinya yang asik untuk dikulik lebih dalam lagi.

Terlahir dan dibesarkan sejak 04 Maret 1996 di daerah Kuningan, Jawa Barat, pasti masing-masing dari kita punya persepsi, bahwa Sela selayaknya fasih atau sekedar bisa berbahasa Sunda, namun kenyataan sebaliknya. Walaupun tidak bisa berbahasa Sunda, jangan diremehkan kemampuan Sela dalam berbahasa, apalagi jika dalam tersurat. Sela sudah profesional menggabungkan kata-kata menjadi rangkaian indah yang bisa mengobrak-abrik perasaan pembacanya. 
Ragu? Silahkan dibuktikan dengan membaca karya dari jemarinya yang menari indah sehingga terciptalah sebuah novel berjudul “First Love”

Sela belum cukup menghanyutkan saya lebih dalam lagi. Setelah hari demi hari terlewati, semakin  saya mengenal dirinya, semakin saya terkagum ketika saya mengetahui berbagai macam prestasi terpancar dari kemampuan berbahasa yang terdapat didalam dirinya. Kecintaannya dalam dunia bahasa dan kesastraan sudah mulai diasa sejak Sela masih menggenakan seragam putih-biru. Banyaknya karya imajinasi yang telah dituangkannya dalam bentuk cerpen hingga novel serta perlombaan puisi dan drama yang telah dilaluinya tidak hanya tinggal cerita silam semata, hingga kini Sela terus menunjukkan progresnya.

Menjadi salah satu anggota yang namanya diperhitungkan oleh Biems Theater, salah satu wadah yang terdapat di kampus bagi para Mahasiswa yang mau mengapresiasikan kehidupan masyarakat melalui sebuah pementasan. Tidak jarang Sela menjadi pemain dalam beberapa pementasan tersebut. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Sela memang bertalenta dalam seni peran dan berbahasa. 

Belum lama ini, saya melihat Sela membacakan salah satu puisi untuk Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2015. Betapa tercengangnya saya melihat Sela yang sehari-hari terlihat pendiam dan bermuka datar, menjadi sangat berekspresi saat menyampaikan rasa kekecewaan seorang pahlawan terhadap generasi muda yang acuh tak acuh dengan negrinya sendiri. Seolah-olah saya terhipnotis, mendengar segala macam tekanan nada rendah dan nada tinggi yang menjadi suatu irama pada saat Sela membacakan puisi tersebut. Membuat jiwa bergetar, dibuatnya saya menjadi generasi muda yang punya rasa ingin lebih bernasionalisme dari sebelumnya. 

Meski memiliki banyak keistimewaan didalam dirinya, Sela tetap rendah hati. Walaupun pendiam, bukan berarti tidak bisa asik saat diajak ngobrol “Jangan menilai bagusnya sebuah buku hanya dari luarnya saja” yang kita kenal pendiam justru bisa menjadi sangat bawel saat menemukan seseorang yang nyaman diajak ngobrol, dan Sela seperti itu. Sela juga menjadi salah satu pendengar yang baik untuk saya yang terkenal bawel. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman sebelum akhirnya kami dipertemukan di Universitas yang sama, disatukan dalam ruang kelas yang sama pula dan sampai saat ini kami menjadi teman baik.

Ditulis oleh: Linna Friska Marbun, Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia