Seseorang Menghanyutkanku disuatu Universitas
Seperti menemukan seseorang yang dapat meyakinkan bahwa kata pepatah “Diam-Diam Menghanyutkan” itu benar adanya. Terlihat diam dalam kesehariannya, tidak banyak bicara seperti Mahasiswa Ilmu Komunikasi pada umumnya. Namun, siapa sangka? Ternyata dirinya adalah seorang penulis novel. Sela Marsela Gusman, diantara 22 orang teman sekelas saya dibangku perkuliahan, Sela punya banyak cerita unik menarik didalam dirinya yang asik untuk dikulik lebih dalam lagi.
Terlahir dan dibesarkan sejak 04 Maret 1996 di daerah Kuningan, Jawa Barat, pasti masing-masing dari kita punya persepsi, bahwa Sela selayaknya fasih atau sekedar bisa berbahasa Sunda, namun kenyataan sebaliknya. Walaupun tidak bisa berbahasa Sunda, jangan diremehkan kemampuan Sela dalam berbahasa, apalagi jika dalam tersurat. Sela sudah profesional menggabungkan kata-kata menjadi rangkaian indah yang bisa mengobrak-abrik perasaan pembacanya.
Ragu? Silahkan dibuktikan dengan membaca karya dari jemarinya yang menari indah sehingga terciptalah sebuah novel berjudul “First Love”
Sela belum cukup menghanyutkan saya lebih dalam lagi. Setelah hari demi hari terlewati, semakin saya mengenal dirinya, semakin saya terkagum ketika saya mengetahui berbagai macam prestasi terpancar dari kemampuan berbahasa yang terdapat didalam dirinya. Kecintaannya dalam dunia bahasa dan kesastraan sudah mulai diasa sejak Sela masih menggenakan seragam putih-biru. Banyaknya karya imajinasi yang telah dituangkannya dalam bentuk cerpen hingga novel serta perlombaan puisi dan drama yang telah dilaluinya tidak hanya tinggal cerita silam semata, hingga kini Sela terus menunjukkan progresnya.
Menjadi salah satu anggota yang namanya diperhitungkan oleh Biems Theater, salah satu wadah yang terdapat di kampus bagi para Mahasiswa yang mau mengapresiasikan kehidupan masyarakat melalui sebuah pementasan. Tidak jarang Sela menjadi pemain dalam beberapa pementasan tersebut. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Sela memang bertalenta dalam seni peran dan berbahasa.
Belum lama ini, saya melihat Sela membacakan salah satu puisi untuk Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2015. Betapa tercengangnya saya melihat Sela yang sehari-hari terlihat pendiam dan bermuka datar, menjadi sangat berekspresi saat menyampaikan rasa kekecewaan seorang pahlawan terhadap generasi muda yang acuh tak acuh dengan negrinya sendiri. Seolah-olah saya terhipnotis, mendengar segala macam tekanan nada rendah dan nada tinggi yang menjadi suatu irama pada saat Sela membacakan puisi tersebut. Membuat jiwa bergetar, dibuatnya saya menjadi generasi muda yang punya rasa ingin lebih bernasionalisme dari sebelumnya.
Meski memiliki banyak keistimewaan didalam dirinya, Sela tetap rendah hati. Walaupun pendiam, bukan berarti tidak bisa asik saat diajak ngobrol “Jangan menilai bagusnya sebuah buku hanya dari luarnya saja” yang kita kenal pendiam justru bisa menjadi sangat bawel saat menemukan seseorang yang nyaman diajak ngobrol, dan Sela seperti itu. Sela juga menjadi salah satu pendengar yang baik untuk saya yang terkenal bawel. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman sebelum akhirnya kami dipertemukan di Universitas yang sama, disatukan dalam ruang kelas yang sama pula dan sampai saat ini kami menjadi teman baik.
Ditulis oleh: Linna Friska Marbun, Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar